Musim kemarau dapat memberikan dampak cukup besar terhadap kesehatan dan produktivitas ternak di Kabupaten Purwakarta. Purwakarta memiliki kondisi iklim yang relatif panas, dengan suhu siang sekitar 22–32°C dan periode bulan kering rata-rata 1–3 bulan per tahun.
Beberapa dampak utamanya adalah:
Stres panas (heat stress)
Suhu lingkungan yang tinggi dapat menyebabkan ternak meningkatkan frekuensi napas, banyak minum, mengurangi aktivitas dan nafsu makan. Pada sapi, stres panas dapat menurunkan produktivitas, terutama produksi susu.
Kekurangan air minum
Kemarau berkepanjangan dapat mengurangi ketersediaan sumber air. Kondisi ini berisiko menyebabkan dehidrasi, penurunan konsumsi pakan, gangguan metabolisme, dan penurunan pertumbuhan ternak. Pemkab Purwakarta sendiri telah mengantisipasi risiko kekeringan dan kelangkaan air pada periode kemarau.
Penurunan ketersediaan dan kualitas pakan
Rumput/hijauan lebih sulit diperoleh ketika lahan mengalami kekeringan. Kekurangan pakan dapat menyebabkan penurunan berat badan, pertumbuhan terhambat, produktivitas turun, serta daya tahan tubuh ternak melemah. Kementan juga menekankan pentingnya cadangan pakan menghadapi kemarau panjang 2026 karena produksi hijauan dapat menurun.
Meningkatnya gangguan pernapasan dan debu
Lingkungan yang kering dan berdebu dapat mengiritasi saluran pernapasan. Hal ini perlu diperhatikan terutama pada kandang dengan ventilasi buruk atau kepadatan ternak tinggi.
Daya tahan tubuh dapat menurun
Kombinasi panas, kekurangan air, dan kekurangan nutrisi dapat menyebabkan ternak mengalami stres sehingga lebih rentan terhadap penyakit. Karena itu, pemantauan kesehatan dan biosekuriti tetap penting. Di Purwakarta sendiri, Dinas Perikanan dan Peternakan melakukan pemantauan penyakit hewan menular dan vaksinasi pada ternak.
Upaya yang dapat dilakukan peternak
info +62 877-1129-9340 No Kontak Bidang Keswan Kesmavet Purwakarta